Samarinda (ANTARA) - Bank Indonesia bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (BI-TPID) Provinsi Kaltim terus melakukan koordinasi untuk memastikan kecukupan pasokan pangan di tengah pandemi COVID-19, termasuk kecukupan selama Ramadhan dan menghadapi Idul Fitri.
 

"Bahkan TPID Kota Samarinda pun telah melakukan rapat koordinasi untuk memantau, kemudian menindaklanjuti upaya pemenuhan pasokan, guna menjaga kestabilan harga pasar," ujar Kepala BI Perwakilan Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) Tutuk SH Cahyono di Samarinda, Selasa.

Selain iu, telah dilakukan penjajakan kerja sama dengan produsen untuk mengamankan pasokan bahan pangan. Hal lain yang dilakukan di kabupaten/kota adalah mengupayakan layanan daring dari pasar-pasar tradisional dan UMKM yang bekerjasama dengan ojek online.

Hal ini dilakukan untuk mendukung kebijakan pemerintah agar masyarakat tetap di rumah dan kegiatan perdagangan tetap berjalan secara baik, sehingga masyarakat masih bisa memperoleh makanan jadi maupun bahan pangan meski santai di rumah.

Di tengah pandemi ini, lanjut dia, sejumlah bahan kebutuhan pokok di Kaltim mengalami penurunan harga karena jumlah pembeli yang menurun. Terlihat dari Indeks Harga Konsumen (IHK) Kaltim pada April 2020 kembali mengalami deflasi 0,14 persen (mtm), setelah bulan lalu juga berdeflasi.

"Berdasarkan deflasi pada April yang minus 0,14 persen, maka inflasi tahun kalender Kaltim menjadi 0,42 persen (ytd), sedangkan inflasi tahunan menjadi 1,96 persen (yoy), jauh lebih rendah ketimbang capaian nasional yang sebesar 2,67 persen (yoy)," ucap Tutuk.

Meski mengalami deflasi, lanjut dia, namun perkembangan harga sejumlah komoditas masih memerlukan pemantauan lebih lanjut karena memasuki Ramadhan dan kebergantungan sebagian besar stok bahan pangan Kaltim dari wilayah lain.

Ia menjelaskan bahwa terdapat tiga kelompok yang mengalami deflasi cukup dalam pada April 2020, yakni makanan, minuman, dan tembakau, kemudian kelompok transportasi, kelompok informasi, dan komunikasi, serta kelompok jasa keuangan.

"Status Kejadian Luar Biasa (KLB) Kaltim menjadikan sebagian besar masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah secara signifikan. Kondisi ini diduga menjadi penyebab permintaan terhadap makanan dan minuman mengalami penurunan," katanya.

Sejumlah komoditas dalam kelompok bahan makanan yang mengalami deflasi cukup dalam antara lain kangkung, ikan layang, dan daging ayam ras.

Berdasarkan pemantauan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Kaltim, sebagian besar kelompok bahan pangan mengalami penurunan harga ketimbang bulan sebelumnya, seperti daging ayam ras yang turun dari Rp32.450 per kg menjadi Rp28.000 per kg.

"Bawang merah dan bawang putih juga menunjukkan penurunan harga meskipun belum berada pada harga normalnya. Sementara cabai rawit terpantau meningkat ke rata-rata harga Rp44.750 per kg," tutur Tutuk.